• tag

  • September 2014
    S S R K J S M
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

kekayaan

ust Hatta Syamsuddin Lc

Islam sejatinya menempatkan harus pada posisi yang netral. Ia bukanlah sesuatu yang tercela atau terpuji dengan sendirinya, melainkan pemilik harta itulah yang menjadikan harta berubah menjadi fitnah atau anugerah. Islam bahkan mengakui harta sebagai penopang dalam kelancaran menjalani kehidupan. Karenanya, Islam berpesan untuk tidak menyerahkan harta kepada orang yang tidak kredibel dalam mengelolanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ” dan janganlah kamu serahkan (harta-hartamu)kepada orang-orang yang bodoh, harta yang dijadikan Allah bagimu sebagai pokok kehidupan” (QS. An Nisa : 5)

Dalam beberapa ayat al Quran, harta disebutkan dengan lafadz ”al khoyr” yang berarti kebaikan. Ini mengisyaratkan sebuah hikmah dan rahasia kebaikan dalam sebuah harta. Karenanya secara umum, kekayaan tidak semestinya dianggap selalu berdampak negatif pada keimanan seseorang. Sejatinya, yang kita perlu mawas diri adalah efek lanjutan dari kekayaan yang bisa melalaikan. Dalil al Quran dan as Sunnah selalu mengingatkan hal ini, yaitu jangan sampai harta membuat kita lalai. Firman Allah subhanahu wa ta’ala ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-nakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Al Munafiqun : 9)

Fungsi kekayaan dalam Islam tidak bisa diartikan agar seseorang hidup bersenang-senang dan bergaya hidup mewah. Seorang mukmin yang menginginkan kekayaan harus mengerti benar tentang fungsi kekayaan dalam Islam. Agar ketika ia mendapatkannya, ia mampu menjalankan fungsi itu dengan baik sehingga kekayaannya benar-benar menjadi anugerah baginya. Ada tiga fungsi kekayaan bagi seorang mukmin.

Pertama, kekayaan menjadikan seseorang lebih bermanfaat bagi yang lainnya.

Secara umum, Islam menganjurkan seseorang untuk bermanfaat bagi orang lain. Bahkan dalam hadits disebutkan ” manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. ” (HR. Baihaqy). Dengan kekayaan, seseorang bisa lebih leluasa untuk memberi manfaat untuk orang lain. Ia bisa berkontribusi dengan hartanya untuk membantu seseorang yang membutuhkan. Ibadah sosial seperti ini tidak bisa diremehkan. Dalam kitab al Mustadrok diriwayatkan oleh ibnu Abbas bahwa pahala memenuhi kebutuhan orang lain melebihi i’tikaf di masjid Nabawi sebulan penuh. Inilah peluang kemuliaan tersendiri yang harus disadari dan disambut oleh oarang-orang kaya dalam Islam.

Kedua, kekayaan menjauhkan seseorang dari efek negatif kemiskinan. Rasulullah sejak dini mengajarkan kepada kita untuk berusaha keluar dari kemiskinan. Dalam doa-doa beliau diisyaratkan untuk mengarah pada kekayaan dan berlepas dari kemiskinan. Dari Abdullah ibnu Mas’ud, bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alayhi wassalam berdoa pada dua hari raya : Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu ketaqwaan, harga diri, kekayaan dan petunjuk” (HR Thabrani). Dalam riwayat lain beliau juga berdoa : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari Kekufuran dan kefakiran” (HR. Al Hakim). Tanpa keimanan yang memadai, kemiskinan memang seringkali menjebak orang pada keputusasaan, rasa tidak bersyukur dan bahkan mendekatkan diri pada kekufuran . semua efek negatif tersebut terntu saja tidsak diinginkan dalam Islam.

Ketiga, kekayaan menjadikan seseorang optimal dalam menjalankan amal ibadah. Amal ibadah dalam Islam mempunyai sifat dan penekanan yang berbeda-beda. Ada ibadah jasadiyah yang menekankan fisik seperti sholat dan puasa. Ada pula ibadah lisan seperti tilawah, dzikir dan dakwah. Serta ada pula ibadah maliyah (harta) seperti sedekah, zakat, dan haji, dengan kekayaan semestinya seseorang bisa lebih optimal dalam menjalankan ragam ibadah dalam Islam.

Akhirnya, kekayaan dalam Islam adalah amanah yang berat. tanpa keshalihan dan ilmu, kekayaan bisa menjadi fitnahbagi seseorang. Kekayaan menjadi begitu terpuji dan bermanafaaat saat berada di tangan orang-orang yang sholeh. Rasulullah shallallahu wassalam bersabda ” sebaik-baik harta yang baik adalah yang ada pada lelaki yang sholeh” (HR. Ahmad). Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan pada kita kekayaan dan ketakwaan. Wallahu a’lam

ada apa dengan kegagalan

daun

“People are always blaming their circumstances for what they are. I don’t believe in circumstances. The people who get on in this world are the people who get up and look for the circumstances they want, and, if they can’t find them, make them”. George Bernard Shaw

 

Pepatah bijak mengatakan bahwa kegagalan adalah proses belajar yang harus dilalui. Tanpa adanya kegagalan, yang namanya keberhasilan tidak akan pernah diketemukan. Thomas Alfa Edison adalah contoh yang nyata. Setelah ribuan kali mengalami kegagalan untuk menemukan listrik, akhirnya beliau berhasil. Pemenang sejati adalah pemenang yang mampu mentoleransi kegagalan yang dialami serta berjuang untuk meraih keberhasilan dan bukannya menyerah pada keadaan. Disamping itu, keberhasilan akan diraih jika seseorang berani mengambil resiko dan tidak takut akan kehilangan / kegagalan. “Failures are divided into two classes – those who thought and never did, and those who did and never thought” John Charles Salak.

Baca lebih lanjut

pemenang vs pecundang

championPemenang selalu jadi bagian dari jawaban;

Pecundang selalu jadi bagian dari masalah.

Pemenang selalu punya program;

Pecundang selalu punya kambing hitam.

Pemenang selalu berkata, “Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda”;

Pecundang selalu berkata, “Itu bukan pekerjaan saya.”

Pemenang selalu melihat jawaban dalam setiap masalah;

Pecundang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban.

Pemenang selalu berkata, “Itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa”;

Pecundang selalu berkata, “Itu mungkin bisa, tapi terlalu sulit.”

Saat pemenang melakukan kesalahan, dia berkata, “Saya salah”;

Saat pecundang melakukan kesalahan, dia berkata, “Itu bukan salah saya.”

Pemenang membuat komitmen-komitmen;

Pecundang membuat janji-janji.

Pemenang punya impian-impian;

Pecundang punya tipu muslihat.

Pemenang berkata, “Saya harus melakukan sesuatu”;

Pecundang berkata, “Harus ada yang dilakukan.”

Pemenang adalah bagian dari sebuah tim;

Pecundang melepaskan diri dari tim.

Pemenang melihat keuntungan;

Pecundang melihat kesusahan.

Pemenang melihat kemungkinan-kemungkinan;

Pecundang melihat permasalahan.

Pemenang percaya pada menang-menang (win-win);

Pecundang percaya, mereka harus menang, orang lain harus kalah.

Pemenang melihat potensi;

Pecundang melihat yang sudah lewat.

Pemenang seperti thermostat (alat pengatur panas);

Pecundang seperti thermometer (alat pengukur panas).

Pemenang memilih apa yang mereka katakan;

Pecundang mengatakan apa yang mereka pilih.

Pemenang menggunakan argumentasi keras tapi kata-kata lembut;

Pecundang menggunakan argumentasi lunak tapi kata-kata keras.

Pemenang berpegang teguh pada nilai-nilai tapi bersedia kompromi pada hal-hal remeh;

Pecundang berkeras pada hal-hal remeh tapi mengkompromikan nilai-nilai.

Pemenang menganut filosofi empati, “Jangan berbuat pada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat pada Anda”;

Pecundang menganut filosofi, “Lakukan pada orang lain sebelum mereka melakukannya pada Anda.”

Pemenang membuat sesuatu terjadi;

Pecundang membiarkan sesuatu terjadi.

Pemenang berencana dan mempersiapkan diri untuk menang.

Kata kuncinya adalah persiapan.

Dari buku karya William Tanu Widjaja

abd ar Rahman ibn auf-Moslem Billionaire

gambar1Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram,terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya. Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang. Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu …… Ummul Mu’minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah…..?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf barn datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya . .. Kata Ummul Mu’minin lagi: — “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’minin … karena ada 700 kendaraan…… !” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Kulihat Abdurrahman bin’Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!” Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan… ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul.. ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda. Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lain berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya….”. Kemudian ulasnyalagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla…..!” Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar …. Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah …! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh kawna keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidakterkira, dengan hati yang puas dan rela …
Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.